Madridista

MY ARTIKEL

Jumat, 13 Januari 2012

Soe Hok Gie


Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.

Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Soe Hok Gie
  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
  • Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah, 
    Aada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza, 
    Ttapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku…. 
    Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu 
    Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi 
    Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang 
    Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra 
    Tapi aku ingin mati disisi mu manisku 

    Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya 
    Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu 
    Mari sini sayangngku 
    Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku 
    Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang 
    Kita tak pernah menanamkan apa-apa 
    Kita takkan pernah kehilangan apa-apa 
    Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir 
    Yang kedua dilahirkan tapi mati muda 
    Dan yang tersial adalah berumur tua 
    Berbahagialah mereka yang mati muda 
    Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada 
    Berbahagialah dalam ketiadaanmu
     

Sabtu, 17 Desember 2011

TIDAK CUKUP SEKEDAR KRITERIA AKADEMIS


MENYANDANG predikat mahasiswa berprestasi  atau mahasiswa teladan merupakan kebanggaan tersendiri bagi setiap mahasiswa.Dengan predikat mahasiswa berprestasi berarti ia adalah mahasiswa dengan berbagai kelebihan diatas rata-rata mahasiswa pada umumnya .Selain itu juga menimbulkan kebanggaan tersendiri  bagi Orang tua,lingkungan sekitar,dan tentu saja almamater tempat dia kuliah.Seseorang yang menjadi teladan akan mendapat keistimewaan dan kemudahan dalam berbagai hal.Misalnya adalah kemudahan dalam memperoleh Beasiswa,memiliki kedekatan dengan dosen,dan berbagai kemudahan dalam perkara akademik lainnya.Pendek kata predikat mahasiswa berprestasi yang disandang seseorang akan banyak memberi  mamfaat bagi dirinya dan lingkungan di sekitarnya.Landasan berfikir bahwa kriteria prestasi seseorang mesti diukur dengan kriteria akademis tidak bias lepas dari pandangan pragmatis matematis yang memandang bahwa prestasi adalah sesuatu yang harus bisa diukur secara jelas dengan menggunakan angka.Dengan angka dapat diketahui si A lebih berprestasi dari si B ,dengan margin sekian dan sebagainya.Tafsiran angka ini mereduksi  sisi lain dari seorang mahasiswa diluar kemampuan akademisnya.Sehingga meskipun seorang mahasiswa memiliki sifat yang egois ,tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya,tidak memiliki empati terhadap sesamanya,tetaplah ia seseorang yang berprestasi dimata sebagian besar orang,asalkan kemampuan akademisnya bagus.Hal ini tentu saja mengabaikan sisi manusiawi diluar kemampuan akademis seseorang.Seorang manusia bukanlah mesin yang hanya bisa diukur produktifitas dan prestasinya berdasar output yang bisa diukur dengan angka,tetapi dia adalah pribadi unik yang mesti dipandang secara utuh sisi-sisi manusiawinya.Menilai prestasi seseorang hanya dengan mengukur kemampuan akademisnya pada dasarnya baru mengukur manusia dari kulit luarnya saja.Ukuran akademis tidak akan mampu menjangkau sisi-sisi terdalam dari manusia,seperti kemampuannya untuk memberikan mamfaat kepada sesamanya.
                                                      
Kriteria selain kademis
Model pendidikan pragmatis hanya menghasilkan sosok manusia seperti halnya mesin produksi yang tujuannya adalah menghasilakan materi semata,sehingga akhirnya memunculkan orang-orang yang egois,apatis,dan terkadang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.Lihatlah betapa banyak orang pintar dan cerdas di negeri ini,betapa banyak orang dengan berbagai gelar dan prestasi akademik yang dimiliki bangsa ini tetapi hanya sedikit dari mereka yang memiliki kemauan dan kepedulian untuk memberi  mamfaat kepada sesamanya.Untuk apa orang pintar  dan cerdas kalau hanya bermamfaat bagi kepentingannya sendiri ,sementara dilain pihak banyak saudaranya yang membutuhkan uluran tangannya.Jika hanya kriteria akademis yang kita gunakan untuk mengukur prestasi  sosok seseorang teladan ,jelas itu tidak cukup.Untuk itu perlu diperhatikan,beberapa kriteria lain untuk menilai sosok teladan secara utuh .Tidak dipungkiri bahwa kriteria akademis ini penting untuk menilai prestasi seseorang,tetapi harus didampingi dengan kriteria lain seperti Demokratis,humanis ,dan tentu saja moralitas.
Sosok seseorang yang demokratis berarti pribadi yang penuh toleransi,mau menerima perbedaan disekitarnya dan peka terhadap anspirasi orang lain .Hal ini sangat penting dimiliki oleh seorang mahasiswa yang nantinya akan terjun untuk mengamalkan ilmunya baik di lingkugan krja maupun lingkungan masyarakat disekitarnya.Sosok yang demokratis akan lebih mudah dan fleksibel bergaul dengan sesamanya.Ditengah orang-orang yang memiliki kemampuan akademis berbeda,dia akan mampu menempatkan dirinya sebagai sosok yang aspiratif dan toleran.Dia tidak akan menempatkan dirinya seolah-olah orang paling pintar,pendapatnya paling benar,sebagaisumber rujukan,tidak maumenerima pendapat pihak lain,meremehkan orang lain dan sikap-sikap egois lainnya.
Kriteria berikutnya adalah Humanis.Sosok yang humanis memiliki kepekaan sisi-sisi kemanusiaan orang lain,mampu berempati terhadap sesamanya,dan senantiasa mengedepankan jalan damai dan menghindari kekerasan dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.Kekerasan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia pendidikan kita.Sosok manusia teladan yang menjadi suri tauladan dan panutan dari mahasiswa lainnya selayaknya dalah orang yang humanis.Banyak orang yang mengabaikan hal ini Di zaman seperti sekarang ini sudah semakin sulit untuk mencari orang yang memiliki empati terhadap sesamanya.
Moralitas sudah menjadi barang yang mahal,langka,dan diabaikan di negeri ini.Orang sudah tidak malu lagi untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral sekalipun.Sebagai contoh dari berita di berbagai media massa menginformasikan pada kita bagaimana tindakan korupsi sudah menggurita di Negeri ini.Korupsi sebagai sebuah tindakan yang tidak bermoral,sudah tidak membuat malu para pelakunya.Selain itu integritas moral juga menjadi masalah serius bagi pemimpin di Negeri ini,seperti para pejabat Negara dan para Wakil rakyat.Mereka yang memiliki jabatan dan kekuasaan tetapi tidak memiliki integritas moral yang tinggi cenderung akan menyelewengkan jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi.Kekuasaan tanpa integritas moral yang tinggi akan cenderung KORUP.(Madridista)

Jumat, 19 Agustus 2011

Doa q.,,,.,



Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan saya dengannya.

Terima kasih untuk saat - saat indah
yang dapat kami nikmati bersama.

Terima kasih untuk setiap pertemuan
yang dapat kami lalui bersama.

Saya datang bersujud dihadapanMU...

Sucikan hati saya ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidup saya.

Ya Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya...
janganlah biarkan saya, melabuhkan hati saya dihatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan jauhkan dia dari relung hati saya...

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam didada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni...
dan tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Engkau ciptakan dia untuk saya...
ya Allah tolong satukan hati kami...
bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya...
berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya...

Ridhoi dia, agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya
sebagaimana telah Engkau ciptakan...

Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh - sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia...

Ya Allah Maha Pengasih, dengarkanlah doa saya ini...
lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU...

Allah yang Maha kekal, saya mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk saya...
luka dan keraguan yang saya alami, pasti ada hikmahnya.

Pergumulan ini mengajarkan saya untuk hidup makin dekat kepadaMU untuk lebih peka terhadap suaraMU yang membimbing saya menuju terangMU...

Ajarkan saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan....

Jadikanlah kehendakMU dan bukan kehendak saya yang menjadi dalam setiap bagian hidup saya...

Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.

Amien.

Senin, 11 Juli 2011

Bersyukur

Pernahkah Anda mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.

Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.

Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.

Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.

Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan.

Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:

    "It would be a blessing if each person
     could be blind and deaf for a few days
     during his grown-up live. It would make
     them see and appreciate their ability to
     experience the joy of sound".


Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.

Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!

Sekarang, coba anda bayangkan sejenak....

......anda menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!

Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri Jaenal melihat
atau mendengar apapun.

Selama beberapa hari itu anda tidak bisa
melihat indahnya dunia, anda tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan anda tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!

Bagaimana ? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?

Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!

Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.

Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain.  Ya! Kemewahan utk orang lain!

Coba anda renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.

Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.

Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia yang lebih baik.

Minggu, 10 April 2011

jeritan mahasiswa


Jeritan Mahasiswa
Bissmillahirrahmanirrahim
   Ruang akademik sebagai basis intelektual dan core competancy ilmu-ilmu Islam merupakan tempat yang paling potensial untuk memulai membangun peradaban ilmiah. Sebab kadar kemajuan sebuah masyarakat di ukur oleh intelektualitas kaum terpelajarnya.
    Akan tetapi pada kenyataannya,di kampus kita ini yang tak lain tak bukan adalah Universitas yang bernafaskan Islam,terjadi suatu ketidakadilan bagi para mahasiswa,khususnya di Fakultas Teknik.Dimana para orang-orang yang menyebut diri mereka dosen tidak menjalankan kewajiban mereka sebagai seorang dosen.Mereka seenaknya saja mangabaikan waktu perkuliahan yang seharusnya menjadi hak bagi para mahasiswa.Entah itu karena alasan discomunikasi antara mahasiswa dengan dosen atau karena adanya urusan lain di luar kampus.
    Hal ini jelas-jelas merugikan kita sebagai mahasiswa.Contoh lain ketidakadilan yang sering terjadi di kampus kita ini adalah ketika seorang mahasiswa yang terlambat 5 menit saja dari waktu yang telah ditentukan ,maka mahasiswa tersebut tidak diperkenankan untuk masuk mengikuti mata kuliah tersebut.Akan tetapi jika seorang dosen yang terlambat 15 menit bahkan 60 menit pun masuk mengajar tanpa rasa malu sedikitpun,mereka tidak sadar kalau waktu kami telah mereka rampas.
Dimanakah letak keadilan di kampus kita ini????
   Apakah kita datng dan kuliah dikampus kita ini hanya sekedar untuk menghabiskan uang orang tua yang mereka cari dengan tetesan keringat, bahkan darah sekalipun. Sedangkan kita menghabiskannya tanpa setetes keringat pun.yng disebabkan karena ketidakadilan.
   Apakah kita harus diam begitu saja ketika suatu ketidakadilan terjadi di sekitar kita.Oleh sebab itu kami mengajak teman-teman  sekalian untuk melakukan suatu perubahan system belajar mengajar yang ada di kampus kita ,khususnya di fakultas teknik ini.Ini tentunya membutuhkan perjuangan yang tidak ringan,Sebab hidup ini adalah pilihan,maka teman-teman sekalian berhak memilih,terus tertindas dalam ketidakadilan atau bergerak untuk melakukan perubahan,dalam hal ini ketidakadilan yang telah dilakukan dosen-dosen kita..
Hidup Mahasiswa,Hidup Mahasiswa,Hidup Mahasiswa...

                                                                                                                                                By:  Mahasiswa yang tertindas